Kamis, 04 Juli 2019

Kisah Cinta Tokoh Pejuang Kemerdekaan Indonesia “Bung Hatta”

Bung Hatta merupakan salah satu tokoh pejuang kemeredekaan bangsa ini. Mungkin sering kita dengar kisahnyanya tentang perjuangannya memerdekakan bangsa ini. Namun ternyata selain sebagai menjadi pejuang bangsa ini, ada pula kisah cinta Bung Hatta  yang menarik untuk didengar. walaupun harus hidup sebagai seorang pejuang bangsa bukan berarti Bung Hatta tidak bisa merasakan cinta dan kasih sayang baik terhadap sesama manusia dan makluk hidup lainnya. Dan apakah kisah cinta bung hatta merupakan murni cinta kasih atau bukan mari kita simak cerita ini kemudian kita coba analisa dengan pendapat beberapa tokoh mengenai cinta kasih.
 Drs. H. Mohammad Hatta (lahir dengan nama Mohammad Athar, populer sebagai Bung Hatta; lahir di Fort de Kock (sekarang BukittinggiSumatra Barat), Hindia Belanda12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah tokoh pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. menikah dengan Rahmi pada tanggal 18 November 1945 sekitar sebulan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya.
Bung Hatta mulai terpikat dengan Ibu Rahmi saat mereka bertemu di Institut Pasteur, Bandung. Saat itu Bung Hatta sedang mengadakan kunjungan bersama Bung Karno. Namun pertemuan ini tidak berarti mereka saling berkenalan, mengobrol, dan meminta alamat. Bung Hatta cuma melihat sekilas wajah Rahmi sajaSebagai seorang pahlawan bangsa, Bung Hatta rela melajang hingga kemerdekaan Indonesia berhasil di rebut. Pada tahun 1945, rakyat Indonesia bergembira dengan diproklamasikannya kemerdekaan bangsa Indonesia. Setelah menyelesaikan permasalahan bangsa, Bung Hatta baru siap untuk melangkah ke pelaminan. Teringat kembali oleh beliau pertemuannya dengan Ibu Rahmi. Bung Hatta pun mengutarakan ketertarikannya kepada Ibu Rahmi melalui Bung Karno. Beliau menjelaskan ciri-ciri gadis yang di jumpai saat berkunjung ke Institut Pasteur, walau dia belum pernah kenal, belum pernah bercakap, bahkan belum tahu namanya.
Kesabaran Bung Hatta dalam menanti saat yang tepat untuk memulai membangun rumah tangga berbuah manis. Dengan bantuan Bung Karno, kira-kira sebulan setelah proklamasi, akhirnya Bung Hatta datang ke rumah Ibu Rahmi untuk melangsungkan lamaran. Awalnya, Ibu Rahmi sempat ragu dengan pinangan itu. Hal tersebut di sebabkan oleh perbedaan usia antara Bung Hatta dan Ibu Rahmi yang cukup jauh, yaitu 24 tahun. Saat itu usia Ibu Rahmi baru 19 tahun. Namun, setelah diyakinkan oleh Bung Karno bahwa sahabatnya merupakan sosok pemimpin yang baik serta berbudi luhur, akhirnya Ibu Rahmi pun luluh. 
Pada tanggal 18 November 1945, pernikahan Bung Hatta dan Ibu Rahmi di selenggarakan di daerah Megamendung, Bogor. Sebagai seorang tokoh bangsa, pernikahan Bung Hatta jauh dari kemewahan. Hanya ada satu foto yang mengabadikan momen bahagia Bung Hatta dan Ibu Rahmi. Dengan mahar sederhana namun luar biasa. Bung Hatta memberikan mahar berupa buku kepada Ibu Rahmi. Buku berjudul "Alam Pikiran Yunani" di tulis sendiri oleh Bung Hatta saat beliau menempuh masa-masa sulit dalam hidupnya. Bagi Bung Hatta, tak ada yang lebih berharga di bandingkan buku.

Hal tersebut menunjukkan bahwa cinta pun tak di nilai dengan seberapa mahal sesuatu yang kamu berikan kepada pasangan. Melainkan bagaimana kamu bisa memberikan suatu milikmu yang berharga dengan tulus.

Pernikahan Bung Hatta dan Ibu Rahmi di karuniai oleh tiga orang puteri, yaitu bernama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta. Ibu Rahmi dengan setia selalu menemani hari-hari Bung Hatta yang banyak dihabiskan dengan dunia politik. Kehidupan rumah tangga mereka juga mengalami pasang surut. Namun mereka menjalaninya dengan penuh toleransi. Bung Hatta dan Ibu Rahmi tak pernah mempersoalkan perbedaan asal-usul, latar belakang keluarga, pendidikan, dan rentang usia mereka yang cukup jauh. Bung Hatta lebih banyak mencurahkan kasih sayang kepada sang istri. Perjalanan cinta mereka akhirnya harus terpisah oleh maut yang menjemput Bung Hatta pada tahun 1980. Selama 35 tahun membina bahtera rumah tangga, telah banyak yang mereka lalui bersama. Selang 19 tahun kemudian, Ibu Rahmi pun menyusul kepergian kekasih hatinya. Makam mereka saling berdampingan. Seolah ingin tetap bersama dan tak mau terpisahkan.

Meskipun kini mereka telah tiada, namun kisah cinta Bung Hatta dan Ibu Rahmi dapat menjadi relationship goals bagi kamu yang masih muda. Pastinya banyak hal-hal baik yang dapat kamu petik dari mereka.

              Dengan melihat dan memahami kisah Bung Hatta dan Rahmi merupakan sebuah Cinta kasih yang sesuai menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S Poerdawarminta yang menerangkan tentang cinta ialah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Dan kasih ialah perasaan sayang atau cinta tanpa menaruh belas kasihan. Terbukti semenjak bung Hatta melihat wajah Rahmi pertama kali sampai ia menikah dengannya Bung Hatta tidak memiliki wanita lain.
              Dalam Buku seni mencinta karya Erich Fromm, cinta itu terutama memberi bukan menerima dan memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. Dan memberi ialah hal hal yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Dan bung Hatta pun memberikan sebuah buku karya terbaiknya sebagai hadiah pernikahannya.
              Menurut dr Sarlio W. Sarwono, menurutnya cinta memeiliki tiga unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan.  Keterikatan ialah perasaan untuk hanya bersama dia segala prioritas untuk dia. Keintiman ialah kebiasaan-kebiasaan tingkah laku yang menunjukan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak lagi ada jarak. Dan kemesraan ialah rasa ingin membelai atau dibelai, rasa akngen kalau jauh atau lama tidak bertemu. Jadi menurut saya kisah merekapun merupakan sebuah cinta jika dicocokan dengan pendapat dr Sarlio, karena akhirnya mereka berhasil mencapai pelaminan dan menhasilkan tiga orang anak. Yang mana pastinya didalam hubungan mereka terdapat sebuah keintiman dan kemesraan. Dan keterikatan merekapun terbukti dengan tidak adanya hal hal saling mengkhianati.
              Cinta tingkat tertinggi ialah cinta kepada Allah, Rasulullah dan berjihad di jalan Allah. Bung Hattapun merupakan seorang yang taat kepada Allah dan Rosulnya. Dimana ia pernah di asingkan ke pulau  dengan kondisi yang serba kekurangan dan keterbatasan. Ia tetap sholat melaksanakan kewajibannya kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar