Bung Hatta merupakan salah satu tokoh pejuang
kemeredekaan bangsa ini. Mungkin sering kita dengar kisahnyanya tentang
perjuangannya memerdekakan bangsa ini. Namun ternyata selain sebagai menjadi
pejuang bangsa ini, ada pula kisah cinta Bung Hatta yang menarik untuk didengar. walaupun harus
hidup sebagai seorang pejuang bangsa bukan berarti Bung Hatta tidak bisa
merasakan cinta dan kasih sayang baik terhadap sesama manusia dan makluk hidup
lainnya. Dan apakah kisah cinta bung hatta merupakan murni cinta kasih atau
bukan mari kita simak cerita ini kemudian kita coba analisa dengan pendapat
beberapa tokoh mengenai cinta kasih.
Drs. H.
Mohammad Hatta (lahir dengan
nama Mohammad Athar, populer sebagai Bung Hatta; lahir di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatra Barat), Hindia Belanda, 12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah tokoh pejuang, negarawan,
ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. menikah
dengan Rahmi pada tanggal 18 November 1945 sekitar sebulan setelah Indonesia memproklamasikan
kemerdekaanya.
Bung Hatta mulai terpikat dengan
Ibu Rahmi saat mereka bertemu di Institut Pasteur, Bandung. Saat itu Bung Hatta
sedang mengadakan kunjungan bersama Bung Karno. Namun pertemuan ini tidak
berarti mereka saling berkenalan, mengobrol, dan meminta alamat. Bung Hatta
cuma melihat sekilas wajah Rahmi saja. Sebagai seorang pahlawan bangsa, Bung Hatta rela
melajang hingga kemerdekaan Indonesia berhasil di rebut. Pada tahun 1945,
rakyat Indonesia bergembira dengan diproklamasikannya kemerdekaan bangsa
Indonesia. Setelah menyelesaikan permasalahan bangsa, Bung Hatta baru siap
untuk melangkah ke pelaminan. Teringat kembali oleh beliau pertemuannya dengan
Ibu Rahmi. Bung Hatta pun mengutarakan ketertarikannya kepada Ibu Rahmi melalui
Bung Karno. Beliau menjelaskan ciri-ciri gadis yang di jumpai saat
berkunjung ke Institut Pasteur, walau dia belum pernah kenal, belum pernah
bercakap, bahkan belum tahu namanya.
Kesabaran Bung Hatta dalam menanti saat yang tepat untuk
memulai membangun rumah tangga berbuah manis. Dengan bantuan Bung Karno,
kira-kira sebulan setelah proklamasi, akhirnya Bung Hatta datang ke rumah
Ibu Rahmi untuk melangsungkan lamaran. Awalnya, Ibu Rahmi sempat ragu dengan
pinangan itu. Hal tersebut di sebabkan oleh perbedaan usia antara Bung Hatta
dan Ibu Rahmi yang cukup jauh, yaitu 24 tahun. Saat itu usia Ibu Rahmi baru 19
tahun. Namun, setelah diyakinkan oleh Bung
Karno bahwa sahabatnya merupakan sosok pemimpin yang baik serta
berbudi luhur, akhirnya Ibu Rahmi pun luluh.
Pada tanggal 18 November 1945, pernikahan Bung Hatta dan Ibu
Rahmi di selenggarakan di daerah Megamendung, Bogor. Sebagai seorang tokoh
bangsa, pernikahan Bung Hatta jauh dari kemewahan. Hanya ada satu foto yang
mengabadikan momen bahagia Bung Hatta dan Ibu Rahmi. Dengan
mahar sederhana namun luar biasa. Bung Hatta memberikan mahar berupa buku
kepada Ibu Rahmi. Buku berjudul "Alam Pikiran Yunani" di tulis
sendiri oleh Bung Hatta saat beliau menempuh masa-masa sulit dalam hidupnya.
Bagi Bung Hatta, tak ada yang lebih berharga di bandingkan buku.
Hal tersebut menunjukkan bahwa cinta pun tak di nilai dengan
seberapa mahal sesuatu yang kamu berikan kepada pasangan. Melainkan bagaimana
kamu bisa memberikan suatu milikmu yang berharga dengan tulus.
Pernikahan Bung Hatta dan Ibu Rahmi di karuniai oleh tiga orang
puteri, yaitu bernama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan
Halida Nuriah Hatta. Ibu Rahmi dengan setia selalu menemani hari-hari Bung
Hatta yang banyak dihabiskan dengan dunia politik. Kehidupan rumah tangga
mereka juga mengalami pasang surut. Namun mereka menjalaninya dengan penuh
toleransi. Bung Hatta dan Ibu Rahmi tak pernah mempersoalkan perbedaan
asal-usul, latar belakang keluarga, pendidikan, dan rentang usia mereka yang
cukup jauh. Bung Hatta lebih banyak mencurahkan kasih sayang
kepada sang istri. Perjalanan cinta mereka akhirnya harus terpisah oleh
maut yang menjemput Bung Hatta pada tahun 1980. Selama 35 tahun membina bahtera
rumah tangga, telah banyak yang mereka lalui bersama. Selang 19 tahun kemudian,
Ibu Rahmi pun menyusul kepergian kekasih hatinya. Makam mereka saling
berdampingan. Seolah ingin tetap bersama dan tak mau terpisahkan.
Meskipun kini mereka telah tiada, namun kisah cinta Bung Hatta
dan Ibu Rahmi dapat menjadi relationship goals bagi kamu yang masih muda.
Pastinya banyak hal-hal baik yang dapat kamu petik dari mereka.
Dengan melihat dan memahami kisah
Bung Hatta dan Rahmi merupakan sebuah Cinta kasih yang sesuai menurut kamus
umum bahasa Indonesia karya W.J.S Poerdawarminta yang menerangkan tentang cinta
ialah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat
kasih atau sangat tertarik hatinya. Dan kasih ialah perasaan sayang atau cinta tanpa
menaruh belas kasihan. Terbukti semenjak bung Hatta melihat wajah Rahmi pertama
kali sampai ia menikah dengannya Bung Hatta tidak memiliki wanita lain.
Dalam Buku seni mencinta karya
Erich Fromm, cinta itu terutama memberi bukan menerima dan memberi merupakan
ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. Dan memberi ialah hal hal yang
sifatnya manusiawi, bukan materi. Dan bung Hatta pun memberikan sebuah buku
karya terbaiknya sebagai hadiah pernikahannya.
Menurut dr Sarlio W. Sarwono,
menurutnya cinta memeiliki tiga unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan
kemesraan. Keterikatan ialah perasaan
untuk hanya bersama dia segala prioritas untuk dia. Keintiman ialah
kebiasaan-kebiasaan tingkah laku yang menunjukan bahwa antara anda dengan dia
sudah tidak lagi ada jarak. Dan kemesraan ialah rasa ingin membelai atau
dibelai, rasa akngen kalau jauh atau lama tidak bertemu. Jadi menurut saya
kisah merekapun merupakan sebuah cinta jika dicocokan dengan pendapat dr
Sarlio, karena akhirnya mereka berhasil mencapai pelaminan dan menhasilkan tiga
orang anak. Yang mana pastinya didalam hubungan mereka terdapat sebuah
keintiman dan kemesraan. Dan keterikatan merekapun terbukti dengan tidak adanya
hal hal saling mengkhianati.
Cinta tingkat
tertinggi ialah cinta kepada Allah, Rasulullah dan berjihad di jalan Allah. Bung Hattapun merupakan seorang yang taat kepada Allah dan Rosulnya.
Dimana ia pernah di asingkan ke pulau dengan kondisi yang serba kekurangan dan
keterbatasan. Ia tetap sholat melaksanakan kewajibannya kepada Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar