Jumat, 12 Juli 2019

Penantian Bung Hatta Berbuah Manis


Blog ini dibuat untuk menganalisa suatu kasus dengan metode yang ada pada bab 4 dalam mata kuliah Ilmu Budaya Dasar yang berisi teori tentang cinta kasih. Di gunakan metode kualitatif karena blog ini sifatnya memberikan penjelasan dengan menggunakan analisis dan lebih fokus pada landasan teori. Sumber data yang digunakan adalah internet dan metologi yang di gunakan adalah membaca tentang kisah Bung Hatta dari berita online lalu menganalisa menggunakan bab 4. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah blog yang di Analisa menggunakan bab 4.

 Drs. H. Mohammad Hatta (lahir dengan nama Mohammad Athar,  popular sebagai Bung Hatta lahir di Fortde Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatra Barat), Hindia Belanda, 12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah tokoh pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. menikah dengan Rahmi pada tanggal 18 November 1945 sekitar sebulan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya.
Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik. Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul “Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen” atau Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan.
Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif. Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia.Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa. PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi.
Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama “Indonesia”, Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, “Indonesia” secara resmi diakui oleh kongres. Nama “Indonesia” untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional. Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Pebruari 1927. Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu. Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi “Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan” di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L ‘Indonesie et son Probleme de I’ Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan).
Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Pada tanggal 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan.Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama “Indonesia Vrij”, dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka.Antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist. Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.
Pada bulan Pebruari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel.Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto.Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”.
Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal.Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari.Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Pada tanggal 11 Februari 1936, Bung Hatta dan Bung Sjahrir tiba di pulau Banda Neira untuk diasingkan sebagai tahanan politik oleh pihak kolonial Belanda. Menurut pengakuan putri pertama Bung HattaMeutia Hatta menjelaskan alasan pihak kolonial Belanda sengaja mengasingkan mereka di tempat yang indah ini (Banda Neira) agar sikap mereka melunak pada pemerintah akan tetapi usaha itu gagal. Dikarenakan mereka belum mendapatkan rumah sebagai tempat tinggal disana, keduanya memutuskan untuk sementara tinggal di kediaman Iwa Koesoemasoemantri disana. Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira.Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain.
Pada tanggal 3 Pebruari 1942, Hatta dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai penasehat. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka, dan dia bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia? Kepala pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada. menjawab bahwa Jepang tidak akan menjajah. Namun Hatta mengetahui, bahwa Kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata terhadap Sekutu kelak. Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah sekutu yang demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944. Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.”
Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa. Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti. Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan bertepuk tangan riuh. Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta.
Pada tanggal 18 November 1945, pernikahan Bung Hatta dan Rahmi di selenggarakan di daerah Megamendung, Bogor. Sebagai seorang tokoh bangsa, pernikahan Bung Hatta jauh dari kemewahan. Hanya ada satu foto yang mengabadikan momen bahagia Bung Hatta dan Rahmi. Dengan mahar sederhana namun luar biasa. Bung Hatta memberikan mahar berupa buku kepada Rahmi. Buku berjudul "Alam Pikiran Yunani" di tulis sendiri oleh Bung Hatta saat beliau menempuh masa-masa sulit dalam hidupnya. Bagi Bung Hatta, tak ada yang lebih berharga di bandingkan buku.
Bung Hatta mulai terpikat dengan Rahmi saat mereka bertemu di Institut Pasteur, Bandung. Saat itu Bung Hatta sedang mengadakan kunjungan bersama Bung Karno. Namun pertemuan ini tidak berarti mereka saling berkenalan, mengobrol, dan meminta alamat. Bung Hatta cuma melihat sekilas wajah Rahmi saja. Sebagai seorang pahlawan bangsa, Bung Hatta rela melajang hingga kemerdekaan Indonesia berhasil di rebut. Pada tahun 1945, rakyat Indonesia bergembira dengan diproklamasikannya kemerdekaan bangsa Indonesia. Setelah menyelesaikan permasalahan bangsa, Bung Hatta baru siap untuk melangkah ke pelaminan. Teringat kembali oleh beliau pertemuannya dengan Rahmi. Bung Hatta pun mengutarakan ketertarikannya kepada Rahmi melalui Bung Karno. Beliau menjelaskan ciri-ciri gadis yang di jumpai saat berkunjung ke Institut Pasteur, walau dia belum pernah kenal, belum pernah bercakap, bahkan belum tahu namanya.

Kesabaran Bung Hatta dalam menanti saat yang tepat untuk memulai membangun rumah tangga berbuah manis. Dengan bantuan Bung Karno, kira-kira sebulan setelah proklamasi, akhirnya Bung Hatta datang ke rumah Rahmi untuk melangsungkan lamaran. Awalnya, Rahmi sempat ragu dengan pinangan itu. Hal tersebut di sebabkan oleh perbedaan usia antara Bung Hatta dan Rahmi yang cukup jauh, yaitu 24 tahun. Saat itu usia Rahmi baru 19 tahun. Namun, setelah diyakinkan oleh Bung Karno bahwa sahabatnya merupakan sosok pemimpin yang baik serta berbudi luhur, akhirnya Rahmi pun luluh. 

Pernikahan Bung Hatta dan Ibu Rahmi di karuniai oleh tiga orang puteri, yaitu bernama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta. Rahmi dengan setia selalu menemani hari-hari Bung Hatta yang banyak dihabiskan dengan dunia politik. Kehidupan rumah tangga mereka juga mengalami pasang surut. Namun mereka menjalaninya dengan penuh toleransi. Bung Hatta dan Rahmi tak pernah mempersoalkan perbedaan asal-usul, latar belakang keluarga, pendidikan, dan rentang usia mereka yang cukup jauh. Bung Hatta lebih banyak mencurahkan kasih sayang kepada sang istri. Perjalanan cinta mereka akhirnya harus terpisah oleh maut yang menjemput Bung Hatta pada tahun 1980. Selama 35 tahun membina bahtera rumah tangga, telah banyak yang mereka lalui bersama. Selang 19 tahun kemudian, Ibu Rahmi pun menyusul kepergian kekasih hatinya. Makam mereka saling berdampingan. Seolah ingin tetap bersama dan tak mau terpisahkan.


Sebagai seorang pemeluk agama Islam, Mohammad Hatta bisa dibilang masuk golongan Muslim taat. Berdasarkan kesaksian sekretaris pribadinya, I Wangsa Widjaya, Hatta tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu dan puasa meski sedang dalam perjalanan dinas. Bahkan saking jujurnya, Hatta disebut Wangsa, enggan menggunakan fasilitas negara saat menunaikan ibadah haji bersama istri dan saudarinya. Kejujuran dan komitmen Hatta sebagai pemimpin yang membela rakyat kecil, menurut Wangsa Widjaya yang selama puluhan tahun menjadi sekretaris wakil presiden pertama RI itu patut diacungi jempol. Dalam buku Mengenang Bung Hatta, Wangsa Widjaya mengatakan, komitmen Hatta membela rakyat kecil karena ia seorang Muslim yang taat. Wangsa mengungkapkan, biasanya Hatta shalat Jumat di Masjid Matraman yang tidak jauh dari kediamannya di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. "Bahkan, dalam perjalanan-perjalanan ke luar negeri, Bung Hatta tidak pernah meninggalkan shalat," kata Wangsa dalam buku tersebut.


A.    Pengertian Cinta Kasih

             Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S Poerdawarminta yang menerangkan tentang cinta ialah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Dan kasih ialah perasaan sayang atau cinta tanpa menaruh belas kasihan. Dengan melihat dan memahami kisah Bung Hatta dan Rahmi merupakan sebuah Cinta kasih yang sesuai  Terbukti semenjak bung Hatta melihat wajah Rahmi pertama kali sampai ia menikah dengannya Bung Hatta tidak memiliki wanita lain.

       Dalam Buku seni mencinta karya Erich Fromm, cinta itu terutama memberi bukan menerima dan memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. Dan memberi ialah hal hal yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Dan bung Hatta pun memberikan sebuah buku karya terbaiknya sebagai hadiah pernikahannya.

             Menurut dr Sarlio W. Sarwono, menurutnya cinta memeiliki tiga unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan :

·       Keterikatan ialah perasaan untuk hanya bersama dia segala prioritas untuk dia. Dalam kisah Bung Hatta, Ibu Rahmi dengan setia selalu menemani hari-hari Bung Hatta yang banyak dihabiskan dengan dunia politik
·       Keintiman ialah kebiasaan-kebiasaan tingkah laku yang menunjukan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak lagi ada jarak. Dalam Kisah Bung Hatta diceritakan pula Kehidupan rumah tangga mereka yang juga mengalami pasang surut. Namun mereka menjalaninya dengan penuh toleransi. Bung Hatta dan Ibu Rahmi tak pernah mempersoalkan perbedaan asal-usul, latar belakang keluarga, pendidikan, dan rentang usia mereka yang cukup jauh.
·       Kemesraan ialah rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu.  Ibu Rahmi dengan setia selalu menemani hari-hari Bung Hatta

Lain halnya pengertian cinta yang di kemukakan oleh Dr.Abdullah Nasih Ulwan, dalam bukunya manajemen cinta, cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihnhya dengan penuh gairah. Dikisahkan pula bagimana Bung Hatta menanti waktu yang tidak ditentukan kapan Indonesia merdeka sampai ia bisa menikahi ibu Rahmi dengan setia.

B.    Cinta Menurut Ajaran Agama

Cinta menurut ajaran agama ada 6 yaitu cinta diri, cinta kepada sesama manusia, cinta seksual, cinta kebapakan, cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul.
·       Cinta diri erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri, Bung Hatta seseorang yang sangatlah religius walaupun dalam perasingan dia tetap menjaga sholatnya.
·       Cinta kepada sesama, Cinta kepada sesama manusia dimana Bung Hatta memberikan pendidikan kepada masyarakat sekitar ketika dia diasingkan.
·       Cinta seksual erat kaitannya dengan dorogan seksual, sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, hubungan Bung Hatta dan Rahmi yang telah dikaruniai 3 orang anak.
·       Cinta kebapakaan terbukti Hatta yang sangatlah sayang terhadap istri dan anak anaknya.
·       Cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasul, Habibi merupakan seorang yang sangatlah taat Bergama dan tidaklah pernah meninggalkan sholat walupun dia dalam perasingan. Sebagaimana yang diketahui oleh umat muslim bahwa sholat merupakan ibadah kepada Allah swt yang diajarkan oleh kekasih Allah Swt yaitu Muhammad Rasulallah.


C.    Kasih Sayang
Kasih sayang menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S.Poerwadaminta adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang, sadar atau tidak sadar dari masing-masing di tuntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian. Terlihat dari cerita diatas bagaimana perasaan yang sangatlah suka bung Hatta terhadap Rahmi mampu membawanya ke jenjang pernikahan walaupun harus menanti dalam waktu yang lama dari awal mula bung Hatta melihat Rahmi pertama kali hingga mereka menikah bung Hatta harus menunggu sampai bangsa ini Merdeka.
D.    Kemesraan
Kemesraan yang artinya perasaan simpati yang akrab, hubungan yang akrab baik di antar pria wanita yang sedang di mabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga. Walau tidaklah sangat begitu nampak keakraban mereka tapi dapat disimpulkan mereka sangatlah akrab dengan hadirnya anak ketiga mereka yang di karunia oleh Allah swt.
E.    Pemujaan
Pemujaan adalah salah satu manifest cinta manusia kepada Tuhannya yang di wujudkan dalam bentuk komunikasi ritual. Bung Hatta merupakan orang yang sangatlah taat beragama dia begitu mengagungkan dan memuja Tuhannya.
F.     Belas Kasih
            Dalam surat Yohanes dijelaskan ada tiga macam cinta. Cinta agape,cinta Philia dan cinta Amor/eros
·       Cinta agape adalah cinta manusia kepada Tuhan. Cinta Bung Hatta dan Rahmi adalah contoh cinta kepada Tuhan karena Bung merupakan orang yang sangatlah taat beragama dan pernikahan mereka pun dilakukan dengan cara agama.
·        Cinta Philia ialah Cinta kepada Ibu Bapa (orang tua), tidak adanya kisah tentang cinta kepada kedua orang tua mereka membuat kasus ini sulit di analisa.
·       Cinta Amor/eros adalah cinta antara pria dan wanita Bung Hatta merupakan seorang Pria dan Rahmi merupakan seorang Wanita jadi cinta mereka termasuk cinta Amor/eros.


G.    Cinta Kasih Erotis
Pertama-tama cinta kasih erotis kerap dicampurbaurkan dengan pengalaman yang eksplosif berupa jatuh cinta, Bung Hatta dan Rahmi berawal dari pertemuan mereka di institute Pasteur yang membuat bung Hatta tertarik kepada Rahmi, walaupun awalnya Rahmi tidak tertarik terhadap bung Hatta tetapi dengan bantuan Soekarno akhirnya Rahmi bersedia menikah dengan bung Hatta  dan mereka menikah yang berarti menyatukan dua orang manusia menjadi dalam satu ikatan pernikahan.
Cinta Bung Hatta dan Rahmi merupakan cinta yang sangatlah tulus, Bung Hatta yang menyukai Rahmi karena awal ia  melihatnya hingga ia menikahinya membutuhkan waktu yang sangat lama dan berat bagi bung Hatta. Dimana bung Hatta harus menunggu sampai bangsa ini merdeka dan bung Hatta rela membujang menunggu waktunya menikahi Rahmi. Walaupun Wahmi yang awalnya tidaklah tertarik terhadap bung Hatta karena ia tidak mengenal siapa bung Hatta namun berkat bantuan Soekarno akhirnya mereka menikah. Rahmi pun sangatlah cinta terhadap suaminya ini dimana ia selalu beusaha menemani Bung Hatta dalam keadaan apapun, merekapun dikaruniai tiga orang buah hati. Cinta mereka akhirnya harus terpisah karena  ajal menjemput Bung Hatta pada tahun 1980. Selama 35 tahun membina bahtera rumah tangga, telah banyak yang mereka lalui bersama. Selang 19 tahun kemudian, Ibu Rahmi pun menyusul kepergian kekasih hatinya. Makam mereka saling berdampingan. Seolah ingin tetap bersama dan tak mau terpisahkan.

Referensi :

Biografiku.com. (2017) Biografi Mohammad Hatta, Kisah Proklamator Indonesia Yang Sederhana.23th Agustus [online]. available at: 
Kompas.com. (2015) Mengunjungi Naira, Mengenang Hatta-Sjahrir.19th Mei [online]. available at: 


Kamis, 04 Juli 2019

Kisah Cinta Tokoh Pejuang Kemerdekaan Indonesia “Bung Hatta”

Bung Hatta merupakan salah satu tokoh pejuang kemeredekaan bangsa ini. Mungkin sering kita dengar kisahnyanya tentang perjuangannya memerdekakan bangsa ini. Namun ternyata selain sebagai menjadi pejuang bangsa ini, ada pula kisah cinta Bung Hatta  yang menarik untuk didengar. walaupun harus hidup sebagai seorang pejuang bangsa bukan berarti Bung Hatta tidak bisa merasakan cinta dan kasih sayang baik terhadap sesama manusia dan makluk hidup lainnya. Dan apakah kisah cinta bung hatta merupakan murni cinta kasih atau bukan mari kita simak cerita ini kemudian kita coba analisa dengan pendapat beberapa tokoh mengenai cinta kasih.
 Drs. H. Mohammad Hatta (lahir dengan nama Mohammad Athar, populer sebagai Bung Hatta; lahir di Fort de Kock (sekarang BukittinggiSumatra Barat), Hindia Belanda12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah tokoh pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. menikah dengan Rahmi pada tanggal 18 November 1945 sekitar sebulan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya.
Bung Hatta mulai terpikat dengan Ibu Rahmi saat mereka bertemu di Institut Pasteur, Bandung. Saat itu Bung Hatta sedang mengadakan kunjungan bersama Bung Karno. Namun pertemuan ini tidak berarti mereka saling berkenalan, mengobrol, dan meminta alamat. Bung Hatta cuma melihat sekilas wajah Rahmi sajaSebagai seorang pahlawan bangsa, Bung Hatta rela melajang hingga kemerdekaan Indonesia berhasil di rebut. Pada tahun 1945, rakyat Indonesia bergembira dengan diproklamasikannya kemerdekaan bangsa Indonesia. Setelah menyelesaikan permasalahan bangsa, Bung Hatta baru siap untuk melangkah ke pelaminan. Teringat kembali oleh beliau pertemuannya dengan Ibu Rahmi. Bung Hatta pun mengutarakan ketertarikannya kepada Ibu Rahmi melalui Bung Karno. Beliau menjelaskan ciri-ciri gadis yang di jumpai saat berkunjung ke Institut Pasteur, walau dia belum pernah kenal, belum pernah bercakap, bahkan belum tahu namanya.
Kesabaran Bung Hatta dalam menanti saat yang tepat untuk memulai membangun rumah tangga berbuah manis. Dengan bantuan Bung Karno, kira-kira sebulan setelah proklamasi, akhirnya Bung Hatta datang ke rumah Ibu Rahmi untuk melangsungkan lamaran. Awalnya, Ibu Rahmi sempat ragu dengan pinangan itu. Hal tersebut di sebabkan oleh perbedaan usia antara Bung Hatta dan Ibu Rahmi yang cukup jauh, yaitu 24 tahun. Saat itu usia Ibu Rahmi baru 19 tahun. Namun, setelah diyakinkan oleh Bung Karno bahwa sahabatnya merupakan sosok pemimpin yang baik serta berbudi luhur, akhirnya Ibu Rahmi pun luluh. 
Pada tanggal 18 November 1945, pernikahan Bung Hatta dan Ibu Rahmi di selenggarakan di daerah Megamendung, Bogor. Sebagai seorang tokoh bangsa, pernikahan Bung Hatta jauh dari kemewahan. Hanya ada satu foto yang mengabadikan momen bahagia Bung Hatta dan Ibu Rahmi. Dengan mahar sederhana namun luar biasa. Bung Hatta memberikan mahar berupa buku kepada Ibu Rahmi. Buku berjudul "Alam Pikiran Yunani" di tulis sendiri oleh Bung Hatta saat beliau menempuh masa-masa sulit dalam hidupnya. Bagi Bung Hatta, tak ada yang lebih berharga di bandingkan buku.

Hal tersebut menunjukkan bahwa cinta pun tak di nilai dengan seberapa mahal sesuatu yang kamu berikan kepada pasangan. Melainkan bagaimana kamu bisa memberikan suatu milikmu yang berharga dengan tulus.

Pernikahan Bung Hatta dan Ibu Rahmi di karuniai oleh tiga orang puteri, yaitu bernama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta. Ibu Rahmi dengan setia selalu menemani hari-hari Bung Hatta yang banyak dihabiskan dengan dunia politik. Kehidupan rumah tangga mereka juga mengalami pasang surut. Namun mereka menjalaninya dengan penuh toleransi. Bung Hatta dan Ibu Rahmi tak pernah mempersoalkan perbedaan asal-usul, latar belakang keluarga, pendidikan, dan rentang usia mereka yang cukup jauh. Bung Hatta lebih banyak mencurahkan kasih sayang kepada sang istri. Perjalanan cinta mereka akhirnya harus terpisah oleh maut yang menjemput Bung Hatta pada tahun 1980. Selama 35 tahun membina bahtera rumah tangga, telah banyak yang mereka lalui bersama. Selang 19 tahun kemudian, Ibu Rahmi pun menyusul kepergian kekasih hatinya. Makam mereka saling berdampingan. Seolah ingin tetap bersama dan tak mau terpisahkan.

Meskipun kini mereka telah tiada, namun kisah cinta Bung Hatta dan Ibu Rahmi dapat menjadi relationship goals bagi kamu yang masih muda. Pastinya banyak hal-hal baik yang dapat kamu petik dari mereka.

              Dengan melihat dan memahami kisah Bung Hatta dan Rahmi merupakan sebuah Cinta kasih yang sesuai menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S Poerdawarminta yang menerangkan tentang cinta ialah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Dan kasih ialah perasaan sayang atau cinta tanpa menaruh belas kasihan. Terbukti semenjak bung Hatta melihat wajah Rahmi pertama kali sampai ia menikah dengannya Bung Hatta tidak memiliki wanita lain.
              Dalam Buku seni mencinta karya Erich Fromm, cinta itu terutama memberi bukan menerima dan memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. Dan memberi ialah hal hal yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Dan bung Hatta pun memberikan sebuah buku karya terbaiknya sebagai hadiah pernikahannya.
              Menurut dr Sarlio W. Sarwono, menurutnya cinta memeiliki tiga unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan.  Keterikatan ialah perasaan untuk hanya bersama dia segala prioritas untuk dia. Keintiman ialah kebiasaan-kebiasaan tingkah laku yang menunjukan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak lagi ada jarak. Dan kemesraan ialah rasa ingin membelai atau dibelai, rasa akngen kalau jauh atau lama tidak bertemu. Jadi menurut saya kisah merekapun merupakan sebuah cinta jika dicocokan dengan pendapat dr Sarlio, karena akhirnya mereka berhasil mencapai pelaminan dan menhasilkan tiga orang anak. Yang mana pastinya didalam hubungan mereka terdapat sebuah keintiman dan kemesraan. Dan keterikatan merekapun terbukti dengan tidak adanya hal hal saling mengkhianati.
              Cinta tingkat tertinggi ialah cinta kepada Allah, Rasulullah dan berjihad di jalan Allah. Bung Hattapun merupakan seorang yang taat kepada Allah dan Rosulnya. Dimana ia pernah di asingkan ke pulau  dengan kondisi yang serba kekurangan dan keterbatasan. Ia tetap sholat melaksanakan kewajibannya kepada Allah.