Blog ini dibuat untuk menganalisa suatu kasus dengan metode yang ada
pada bab 4 dalam mata kuliah Ilmu Budaya Dasar yang berisi teori tentang cinta
kasih. Di gunakan metode kualitatif karena blog ini sifatnya memberikan
penjelasan dengan menggunakan analisis dan lebih fokus pada landasan teori. Sumber
data yang digunakan adalah internet dan metologi yang di gunakan adalah membaca
tentang kisah Bung Hatta dari berita online lalu menganalisa menggunakan bab 4.
Hasil dari penelitian ini adalah sebuah blog yang di Analisa menggunakan bab 4.
Drs. H. Mohammad Hatta (lahir dengan nama Mohammad Athar, popular sebagai Bung Hatta lahir di Fortde
Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatra Barat), Hindia Belanda, 12 Agustus 1902 –
meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah tokoh pejuang,
negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. menikah
dengan Rahmi pada tanggal 18 November 1945 sekitar sebulan setelah Indonesia
memproklamasikan kemerdekaanya.
Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels
Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging.
Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging.
Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama
lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Hatta juga mengusahakan agar
majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar
pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi
Indonesia Merdeka. Hatta lulus dalam
ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia
bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925.
Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka
jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki
jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik. Perpanjangan
rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal
17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang
berjudul “Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen” atau Struktur
Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan.
Dia mencoba
menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan
kebijaksanaan non-kooperatif. Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut
Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari
perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi
jalannya politik rakyat di Indonesia.Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan
Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari
pergerakan nasional yang berada di Eropa. PI melakukan propaganda aktif di luar
negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan
menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin
delegasi.
Pada tahun 1926,
dengan tujuan memperkenalkan nama “Indonesia”, Hatta memimpin delegasi ke
Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa
banyak oposisi, “Indonesia” secara resmi diakui oleh kongres. Nama “Indonesia”
untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal
kalangan organisasi-organisasi internasional. Hatta dan pergerakan nasional
Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan
Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels
tanggal 10-15 Pebruari 1927. Di kongres ini Hatta berkenalan dengan
pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta
tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika
seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor
(Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu. Pada
tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi
“Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan” di Gland, Swiss.
Judul ceramah Hatta L ‘Indonesie et son Probleme de I’ Independence (Indonesia
dan Persoalan Kemerdekaan).
Bersama dengan Nazir
St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta
dipenjara selama lima setengah bulan. Pada tanggal 22 Maret 1928, mahkamah
pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan.Dalam sidang
yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang
kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama “Indonesia Vrij”, dan kemudian
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia
Merdeka.Antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta
penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist.
Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.
Pada bulan Pebruari
1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan
perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai
Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel.Seluruhnya
berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan
Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin,
Soeka, dan Murwoto.Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di
penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku
berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”.
Pada bulan Januari
1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua).
Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja
untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan
dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan
makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal.Hatta
menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di
Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak
perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari.Dalam
pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan.
Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula
membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang
khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Pada tanggal 11 Februari 1936, Bung Hatta dan Bung Sjahrir tiba di pulau Banda Neira untuk
diasingkan sebagai tahanan politik oleh pihak kolonial Belanda. Menurut
pengakuan putri pertama Bung Hatta, Meutia Hatta menjelaskan
alasan pihak kolonial Belanda sengaja
mengasingkan mereka di tempat yang indah ini (Banda Neira) agar sikap mereka
melunak pada pemerintah akan tetapi usaha itu gagal. Dikarenakan
mereka belum mendapatkan rumah sebagai tempat tinggal disana, keduanya
memutuskan untuk sementara tinggal di kediaman Iwa Koesoemasoemantri disana. Pada bulan Desember 1935,
Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan
Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat
ke Bandaneira.Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa
Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan
penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang
sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain.
Pada tanggal 3 Pebruari 1942, Hatta
dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia
Belanda menyerah kepada Jepang, dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan
Sjahrir dibawa ke Jakarta.Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk
bekerja sama sebagai penasehat. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa
Indonesia untuk merdeka, dan dia bertanya, apakah Jepang akan menjajah
Indonesia? Kepala pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada.
menjawab bahwa Jepang tidak akan menjajah. Namun Hatta mengetahui, bahwa
Kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya
sendiri. Pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai
senjata terhadap Sekutu kelak. Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah
sekutu yang demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu
didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan
September 1944. Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun
pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada
tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan,
“Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu
ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini
setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia
tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.”
Pada awal Agustus 1945, Panitia
Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad
Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di
seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau
Jawa. Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam
Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia
kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik
memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno
meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar
Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu
selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya
menanti. Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh
dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan
bertepuk tangan riuh. Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia
diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia,
tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta.
Pada tanggal 18 November 1945, pernikahan Bung Hatta dan Rahmi di
selenggarakan di daerah Megamendung, Bogor. Sebagai seorang tokoh bangsa,
pernikahan Bung Hatta jauh dari kemewahan. Hanya ada satu foto yang
mengabadikan momen bahagia Bung Hatta dan Rahmi. Dengan mahar sederhana
namun luar biasa. Bung Hatta memberikan mahar berupa buku kepada Rahmi. Buku
berjudul "Alam Pikiran Yunani" di tulis sendiri oleh Bung Hatta
saat beliau menempuh masa-masa sulit dalam hidupnya. Bagi Bung Hatta, tak ada
yang lebih berharga di bandingkan buku.
Bung Hatta mulai terpikat dengan Rahmi saat mereka bertemu di Institut
Pasteur, Bandung. Saat itu Bung Hatta sedang mengadakan kunjungan bersama Bung
Karno. Namun pertemuan ini tidak berarti mereka saling berkenalan, mengobrol,
dan meminta alamat. Bung Hatta cuma melihat sekilas wajah Rahmi saja. Sebagai
seorang pahlawan bangsa, Bung Hatta rela melajang hingga kemerdekaan
Indonesia berhasil di rebut. Pada tahun 1945, rakyat Indonesia bergembira
dengan diproklamasikannya kemerdekaan bangsa Indonesia. Setelah menyelesaikan
permasalahan bangsa, Bung Hatta baru siap untuk melangkah ke pelaminan.
Teringat kembali oleh beliau pertemuannya dengan Rahmi. Bung Hatta pun mengutarakan
ketertarikannya kepada Rahmi melalui Bung Karno. Beliau menjelaskan
ciri-ciri gadis yang di jumpai saat berkunjung ke Institut Pasteur, walau dia
belum pernah kenal, belum pernah bercakap, bahkan belum tahu namanya.
Kesabaran Bung Hatta dalam menanti saat yang tepat untuk memulai
membangun rumah tangga berbuah manis. Dengan bantuan Bung Karno, kira-kira
sebulan setelah proklamasi, akhirnya Bung Hatta datang ke rumah Rahmi
untuk melangsungkan lamaran. Awalnya, Rahmi sempat ragu dengan pinangan itu.
Hal tersebut di sebabkan oleh perbedaan usia antara Bung Hatta dan Rahmi yang
cukup jauh, yaitu 24 tahun. Saat itu usia Rahmi baru 19 tahun. Namun, setelah
diyakinkan oleh Bung Karno bahwa sahabatnya merupakan sosok
pemimpin yang baik serta berbudi luhur, akhirnya Rahmi pun luluh.
Pernikahan Bung Hatta dan Ibu Rahmi di karuniai oleh tiga orang puteri,
yaitu bernama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah
Hatta. Rahmi dengan setia selalu menemani hari-hari Bung Hatta yang banyak
dihabiskan dengan dunia politik. Kehidupan rumah tangga mereka juga mengalami
pasang surut. Namun mereka menjalaninya dengan penuh toleransi. Bung Hatta dan Rahmi tak
pernah mempersoalkan perbedaan asal-usul, latar belakang keluarga, pendidikan,
dan rentang usia mereka yang cukup jauh. Bung Hatta lebih banyak
mencurahkan kasih sayang kepada sang istri. Perjalanan cinta mereka
akhirnya harus terpisah oleh maut yang menjemput Bung Hatta pada tahun 1980.
Selama 35 tahun membina bahtera rumah tangga, telah banyak yang mereka lalui
bersama. Selang 19 tahun kemudian, Ibu Rahmi pun menyusul kepergian kekasih
hatinya. Makam mereka saling berdampingan. Seolah ingin tetap bersama dan tak
mau terpisahkan.
Sebagai seorang pemeluk agama Islam, Mohammad Hatta bisa dibilang masuk
golongan Muslim taat. Berdasarkan kesaksian sekretaris pribadinya, I Wangsa
Widjaya, Hatta tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu dan puasa meski
sedang dalam perjalanan dinas. Bahkan saking jujurnya, Hatta
disebut Wangsa, enggan menggunakan fasilitas negara saat menunaikan ibadah haji
bersama istri dan saudarinya. Kejujuran dan komitmen Hatta sebagai pemimpin
yang membela rakyat kecil, menurut Wangsa Widjaya yang selama puluhan tahun
menjadi sekretaris wakil presiden pertama RI itu patut diacungi jempol. Dalam
buku Mengenang Bung Hatta, Wangsa Widjaya mengatakan, komitmen
Hatta membela rakyat kecil karena ia seorang Muslim yang taat. Wangsa
mengungkapkan, biasanya Hatta shalat Jumat di Masjid Matraman yang tidak jauh
dari kediamannya di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. "Bahkan, dalam
perjalanan-perjalanan ke luar negeri, Bung Hatta tidak pernah meninggalkan
shalat," kata Wangsa dalam buku tersebut.
A.
Pengertian Cinta
Kasih
Menurut
kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S Poerdawarminta yang menerangkan tentang
cinta ialah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa
sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Dan kasih ialah perasaan sayang atau
cinta tanpa menaruh belas kasihan. Dengan melihat dan memahami kisah Bung Hatta
dan Rahmi merupakan sebuah Cinta kasih yang sesuai Terbukti semenjak bung Hatta melihat wajah
Rahmi pertama kali sampai ia menikah dengannya Bung Hatta tidak memiliki wanita
lain.
Dalam Buku seni mencinta
karya Erich Fromm, cinta itu terutama memberi bukan menerima dan memberi
merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. Dan memberi ialah hal hal
yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Dan bung Hatta pun memberikan sebuah
buku karya terbaiknya sebagai hadiah pernikahannya.
Menurut
dr Sarlio W. Sarwono, menurutnya cinta memeiliki tiga unsur yaitu keterikatan,
keintiman, dan kemesraan :
·
Keterikatan ialah
perasaan untuk hanya bersama dia segala prioritas untuk dia. Dalam kisah Bung
Hatta, Ibu Rahmi dengan setia selalu menemani hari-hari Bung Hatta yang banyak
dihabiskan dengan dunia politik
·
Keintiman ialah
kebiasaan-kebiasaan tingkah laku yang menunjukan bahwa antara anda dengan dia
sudah tidak lagi ada jarak. Dalam Kisah Bung Hatta diceritakan pula Kehidupan
rumah tangga mereka yang juga mengalami pasang surut. Namun mereka menjalaninya
dengan penuh toleransi. Bung Hatta dan Ibu Rahmi tak pernah mempersoalkan
perbedaan asal-usul, latar belakang keluarga, pendidikan, dan rentang usia
mereka yang cukup jauh.
·
Kemesraan ialah rasa
ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu. Ibu Rahmi dengan setia selalu menemani
hari-hari Bung Hatta
Lain halnya pengertian cinta yang di kemukakan oleh Dr.Abdullah Nasih
Ulwan, dalam bukunya manajemen cinta, cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak
hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihnhya dengan penuh gairah. Dikisahkan
pula bagimana Bung Hatta menanti waktu yang tidak ditentukan kapan Indonesia merdeka
sampai ia bisa menikahi ibu Rahmi dengan setia.
B.
Cinta Menurut Ajaran
Agama
Cinta menurut ajaran
agama ada 6 yaitu cinta diri, cinta kepada sesama manusia, cinta seksual, cinta
kebapakan, cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul.
·
Cinta diri erat
kaitannya dengan dorongan menjaga diri, Bung Hatta seseorang yang sangatlah religius
walaupun dalam perasingan dia tetap menjaga sholatnya.
·
Cinta kepada sesama,
Cinta kepada sesama manusia dimana Bung Hatta memberikan pendidikan kepada
masyarakat sekitar ketika dia diasingkan.
·
Cinta seksual erat
kaitannya dengan dorogan seksual, sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan
kasih sayang, hubungan Bung Hatta dan Rahmi yang telah dikaruniai 3 orang anak.
·
Cinta kebapakaan
terbukti Hatta yang sangatlah sayang terhadap istri dan anak anaknya.
·
Cinta kepada Allah
dan cinta kepada Rasul, Habibi merupakan seorang yang sangatlah taat Bergama
dan tidaklah pernah meninggalkan sholat walupun dia dalam perasingan. Sebagaimana
yang diketahui oleh umat muslim bahwa sholat merupakan ibadah kepada Allah swt
yang diajarkan oleh kekasih Allah Swt yaitu Muhammad Rasulallah.
C.
Kasih Sayang
Kasih sayang menurut
Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S.Poerwadaminta adalah perasaan
sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang, sadar atau tidak
sadar dari masing-masing di tuntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran,
saling percaya, saling pengertian. Terlihat dari cerita diatas bagaimana
perasaan yang sangatlah suka bung Hatta terhadap Rahmi mampu membawanya ke
jenjang pernikahan walaupun harus menanti dalam waktu yang lama dari awal mula
bung Hatta melihat Rahmi pertama kali hingga mereka menikah bung Hatta harus
menunggu sampai bangsa ini Merdeka.
D.
Kemesraan
Kemesraan yang
artinya perasaan simpati yang akrab, hubungan yang akrab baik di antar pria
wanita yang sedang di mabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga. Walau tidaklah
sangat begitu nampak keakraban mereka tapi dapat disimpulkan mereka sangatlah
akrab dengan hadirnya anak ketiga mereka yang di karunia oleh Allah swt.
E.
Pemujaan
Pemujaan adalah
salah satu manifest cinta manusia kepada Tuhannya yang di wujudkan dalam bentuk
komunikasi ritual. Bung Hatta merupakan orang yang sangatlah taat beragama dia
begitu mengagungkan dan memuja Tuhannya.
F.
Belas Kasih
Dalam surat
Yohanes dijelaskan ada tiga macam cinta. Cinta agape,cinta Philia dan cinta
Amor/eros
·
Cinta agape adalah
cinta manusia kepada Tuhan. Cinta Bung Hatta dan Rahmi adalah contoh
cinta kepada Tuhan karena Bung merupakan orang yang sangatlah taat beragama dan
pernikahan mereka pun dilakukan dengan cara agama.
·
Cinta Philia ialah Cinta kepada Ibu Bapa
(orang tua), tidak adanya kisah tentang cinta kepada kedua orang tua mereka
membuat kasus ini sulit di analisa.
·
Cinta Amor/eros
adalah cinta antara pria dan wanita Bung Hatta merupakan seorang Pria dan Rahmi
merupakan seorang Wanita jadi cinta mereka termasuk cinta Amor/eros.
G.
Cinta Kasih Erotis
Pertama-tama cinta
kasih erotis kerap dicampurbaurkan dengan pengalaman yang eksplosif berupa
jatuh cinta, Bung Hatta dan Rahmi berawal dari pertemuan mereka di institute Pasteur
yang membuat bung Hatta tertarik kepada Rahmi, walaupun awalnya Rahmi tidak
tertarik terhadap bung Hatta tetapi dengan bantuan Soekarno akhirnya Rahmi
bersedia menikah dengan bung Hatta dan
mereka menikah yang berarti menyatukan dua orang manusia menjadi dalam satu
ikatan pernikahan.
Cinta Bung Hatta dan Rahmi merupakan cinta yang sangatlah tulus, Bung
Hatta yang menyukai Rahmi karena awal ia
melihatnya hingga ia menikahinya membutuhkan waktu yang sangat lama dan
berat bagi bung Hatta. Dimana bung Hatta harus menunggu sampai bangsa ini
merdeka dan bung Hatta rela membujang menunggu waktunya menikahi Rahmi. Walaupun
Wahmi yang awalnya tidaklah tertarik terhadap bung Hatta karena ia tidak mengenal
siapa bung Hatta namun berkat bantuan Soekarno akhirnya mereka menikah. Rahmi
pun sangatlah cinta terhadap suaminya ini dimana ia selalu beusaha menemani
Bung Hatta dalam keadaan apapun, merekapun dikaruniai tiga orang buah hati. Cinta
mereka akhirnya harus terpisah karena ajal
menjemput Bung Hatta pada tahun 1980. Selama 35 tahun membina bahtera rumah
tangga, telah banyak yang mereka lalui bersama. Selang 19 tahun kemudian, Ibu
Rahmi pun menyusul kepergian kekasih hatinya. Makam mereka saling berdampingan.
Seolah ingin tetap bersama dan tak mau terpisahkan.
Referensi :
Biografiku.com. (2017) Biografi Mohammad Hatta,
Kisah Proklamator Indonesia Yang Sederhana.23th Agustus [online]. available at:
https://www.biografiku.com/biografi-mohammad-hatta
[accessed 3 Juli 2019].
Kompas.com. (2015) Mengunjungi Naira, Mengenang
Hatta-Sjahrir.19th Mei [online]. available at:
https://travel.kompas.com/read/2015/05/19/134900127/Mengunjungi.Naira.Mengenang.Hatta-Sjahrir
[accessed 4 Juli 2019 ].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar